Kerusuhan Banggai: Polisi Bebaskan 25 dari 26 Warga yang ... | Liputan 24 Sulawesi Tengah
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kerusuhan Banggai: Polisi Bebaskan 25 dari 26 Warga yang ...

Posted by On 3:06 PM

Kerusuhan Banggai: Polisi Bebaskan 25 dari 26 Warga yang ...

Warga tidak terima dengan putusan pengadilan mengabulkan permohonan seseorang yang mengaku sebagai ahli waris tanah yang ditinggali sekitar 1.400 orang.tirto.id - Kericuhan kembali terjadi di tanah seluas 20 hektar yang menjadi sengketa antara warga dengan Pengadilan Negeri Luwuk. Petugas Polri dan TNI yang ikut membantu proses penggusuran rumah warga di kawasan Tanjung Sari, Luwuk, Banggai, menangkap sekitar 26 orang ke kantor Polres Banggai.
Menurut Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria, Dewi Sartika mengatakan dari 26 orang yang ditangkap itu 25 telah dibebaskan dan satu warga masih diperiksa.
"Julianer SH [kuasa hukum] dan 24 orang warga yang ditahan telah dibebaskan dari tahanan Polres Banggai. Satu orang warga atas nama Ade Putra masih menjalani periksa," kata Dewi kepada Tirto, Selasa (20/3/2018).
Meski 25 warga tersebut telah dibebaskan, Dewi berhar ap polisi tetap bertanggung jawab atas penangkapan 26 warga sipil ini.
"Dengan dibebaskan kawan-kawan, bukan berarti pihak kepolisian telah lepas dari perilaku yang telah membuat warga kehilangan martabatnya dan hak kepemilikan," tutur Dewi.
Masyarakat tidak terima atas putusan PN Luwuk pada medio 2017 lalu. Putusan itu mengabulkan permohonan seseorang yang mengaku sebagai ahli waris tanah yang ditinggali sekitar 1.400 orang. Imbasnya, masyarakat digusur paksa oleh aparat dan menyebabkan kericuhan.
“Tadi siang (Senin, 19/3/2018) tak terhindarkan lagi. Terjadi bentrokan antara aparat dengan warga yang menolak digusur," kata Dewi.
Dewi menegaskan, menurut surat BPN RI Kantor Wilayah Sulawesi Tengah nomor 899/72/VI/2017 perihal Penjelasan Eksekusi Tanah di kawasan tersebut, penggusuran sudah menyalahi aturan karena melibatkan tanah yang sudah bersertifikat.
Seharusnya, masyarakat tidak digusur karena mempunyai sertifikat hak milik yang resmi dari K ementerian ATR/BPN. “Ini menunjukkan bahwa putusan dan eksekusi penggusuran tersebut cacat hukum,” katanya lagi.
Terakhir dikonfirmasi sore tadi, Dewi mengatakan 26 warga yang ditangkap sudah dibebaskan oleh pihak kepolisian dan TNI.
Baca juga: 12 Aktivis Penolak Bandara Kulon Progo Ditangkap Polisi
Sedangkan pelaksana tugas Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah, AKBP Heri Purwono menyampaikan, memang ada 26 orang yang berada di Polres Banggai untuk sementara. Ia menolak menyebut 26 warga tersebut ‘ditangkap.’ Heri lebih memilih menggunakan istilah ‘diamankan.’
“Diamankan karena saat mediasi setelah diberi kesempatan sampai salat dzuhur tidak menghiraukan mediasi tersebut. Malah melakukan perlawanan dengan membawa bambu runcing dan bom Molotov, serta batu, melakukan pengrusakan, dan pembakaran kaca jendela,” tegasnya.
Saat ini, 26 orang itu masih berada di Luwuk. Heri menjamin bahwa orang yang diamankan tersebut dalam kondisi yang sehat. Ketika ditan yakan lebih lanjut soal kapan pembebasan orang-orang tersebut, ia tidak menjawab.
Baca juga: Aksi Gebuk Aparat saat Pengosongan Paksa Lahan Bandara Kulon Progo
Baca juga artikel terkait SENGKETA LAHAN atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
Subscribes NowSumber: Google News | Liputan 24 Banggai

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »