Ikhtiar kreatif mantan teroris | Liputan 24 Sulawesi Tengah
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Ikhtiar kreatif mantan teroris

Posted by On 10:03 AM

Ikhtiar kreatif mantan teroris

Hari itu, wajah Ahmad berseri-seri. Dia terlihat bahagia karena bisa menghirup udara segar setelah enam tahun empat bulan mendekam dalam penjara, lantaran terbukti merakit bom untuk aksi terorisme.

Lepas dari status orang bui, Ahmad berharap bisa hidup normal di tengah masyarakat. Namun kenyataan berbeda didapatnya pada hari-hari pertama kebebasan.

Para tetangga berbisik mencibirnya. Percakapan tetangga Ahmad, jadi satu penanda.

"Jangan dekat-dekat dengan Ahmad. Dia mau cuci nanti otaknya papa," ujar seorang istri kepada suaminya.

"Ooh ngana (kamu) kira sandal kah apa? ini otak bisa dicuci-cuci," jawab sang suami.

Stigma serupa membuat Ahmad berulang kali mandapat penolakan saat mencari kerja--bahkan ketika dia melamar untuk kerja-kerja kasar (buruh angkut) di sebuah toko.

"So (sudah) taputar-putar (keliling) kita cari kerja. Semua bilang tidak ada lowongan," keluh Ahmad kepada kawannya.

Setitik harapan datang saat Ahmad mendapat tawaran pekerjaan dari Andi, sesama mantan narapidana teroris. Duet itu menapaki "jalan pulang" dengan merintis usaha sablon dan percetakan.

"Mantan teroris macam kita (saya) ini, siapa mo (mau) terima kerja?"

Satire Ahmad di Jalan Pulang

Kisah di muka merupakan ikhtisar film pendek bertajuk Jalan Pulang.

Beberapa bulan terakhir, film 40 menit itu menjalani pemutaran keliling. Ia kerap diputar dalam forum berkenaan terorisme dan deradikalisasi. Antara lain, Jalan Pulang bersemuka penonton di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, pengujung Februari 2018.

Kian menarik sebab sutradara Jalan Pulang, Arifudin Lako, merupakan mantan narapidana terorisme dalam pusaran konflik Poso, Sulawesi Tengah.

Pria yang karib disapa Iin Brur itu jadi terhukum dalam kasus penembakan Ferry Silalahi, seorang jaksa di Kejaksaan T inggi Palu. Pada 26 Mei 2004, empat peluru dari revolver Iin bersarang di tubuh Ferry.

Pembunuhan itu dilatari dendam atas tuntutan sang jaksa kepada terdakwa kasus terorisme di Poso. Pengadilan lantas mengganjar Iin dengan hukuman delapan tahun enam bulan penjaraâ€"dijalani enam tahun empat bulan.

"Jalan Pulang terinspirasi dari kehidupan saya dan teman-teman eks-narapidana teroris di Poso. Misalnya, lama hukuman Ahmad, diambil dari vonis dan hukuman saya," kata pria berusia 40 itu.

Sekadar catatan, di Poso, ada 40-an eks-narapidana terorisme yang sudah menjalani proses reintegrasi ke masyarakat.

***

FILM JALAN PULANG OFFICIAL TRAILER /ismunandar madiu

Akhir tahun lalu, Beritagar.id bersemuka Iin di Palu, Sulawesi Tengah.

Sorot matanya sayu, tapi selalu tampak berjaga mengawasi apa-apa yang melintas di hadapannya. Bapak satu anak itu punya tempo bertutur nan lamban, terutama ketika mengingat ulang momen kelam berkenaan kekerasan dan terorisme dalam hidupnya.

Seperti kebanyakan eks-kombatan konflik Poso, ide radikal masuk kepala Iin beriring konflik komunal yang berkecamuk di kabupaten itu sejak 1998.

Iin merasakan dampak konflik pada medio 2000. Keluarga besarnya harus terusir dari rumah, dan menjalani hidup sebagai pengungsi--berbilang bulan hingga tahun. Itu belum menghitung kabar-kabar pilu tentang kekerasan hingga kematian yang menimpa sanak famili.

Kesumat mengeras. Iin memancang tekad bergabung dengan pasukan jihad demi menuntaskan dendam.

Setelah balik ke Poso, dia sering mengikuti majelis taklim di masjid dekat ru mahnya, bilangan Kelurahan Bonesompe, Kecamatan Poso Kota Utara. Majelis itu mempertemukan Iin dengan gagasan radikal yang dibawa “ustaz-ustaz dari Jawa”.

Tak berhenti pada gagasan, dia juga mendapat pelatihan paramiliter, macam teknik merakit bom, strategi perang, dan bongkar pasang senjata.

“Nanti tahun 2002, saya baru tahu kelompok yang saya ikuti bagian dari Jamaah Islamiyah (JI)â€"organisasi teror yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Waktu itu, beberapa 'ustaz dari Jawa' yang pernah ke Poso ditangkap setelah Bom Bali,” kata Iin.

Antara 2001-2007, jaringan lokal JI jadi aktor teror di Poso dan Sulawesi Tengah. Mereka merencanakan dan melakukan sejumlah aksi kekerasan atas nama agama: menyerang perkampungan, teror bom, penembakan, dan perampokan.

Iin merupakan salah seorang pentolan dalam jaringan termaksud. Dokumen International Crisis Group (Januari 2007), lembaga riset isu terorisme dan keamanan, menyebut Iin sebagai “lulusan palin g menonjol” dalam pelatihan pertama JI di Poso.

“Saya masuk angkatan pertama pelatihan JI di Poso,” ujar Iin. “Santoso (almarhum)â€"gembong teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT)â€"masuk di gelombang ketiga, waktu itu saya sudah ikut bantu-bantu kasih pelatihan.”

Iin mulai berstatus buronan polisi pada medio 2006. Namanya tercantum dalam daftar pencarian orang (DPO) sebagai pelaku penembakan Jaksa Ferry di Palu.

Sebagai orang buruan, Iin tergolong licin, hingga bisa menghindari penangkapan selama tiga tahun. Selama pelarian, Iin beberapa kali berkomunikasi dengan aktivis kemanusiaan di Palu. Di antara para aktivis itu tersebutlah nama Adriany Badrah.

Sejak awal era 2000, Adriany sudah mendampingi bekas kombatan dan perempuan korban konflik di Poso. Saat ini, Adriany menjabat sebagai Direktur Celebes Institute, lembaga tangki pemikiran yang menjadikan konflik Poso sebagai salah satu fokus riset.

“Waktu saya buron, Adi (sapaan Adriany) sering berdiskusi. Dia yang mendorong saya menyerahkan diri,” kata Iin, soal peran Adriany.

Setelah tiga tahun buron, Iin mulai kelelahan. Dia pun menyebut satu alasan sentimental, “Saya ingat ibu, satu-satunya orang tua yang masih hidup. Kalau sembunyi terus, saya kehilangan kesempatan berbakti kepada ibu.”

Pada 11 November 2009, Iin resmi menginsafi perbuatannya, menyerahkan diri, dan menghadapi takdir sebagai narapidana terorisme.

***

Aktivitas kerja-kerja produksi film pendek "Jalan Pulang" yang diproduksi oleh Rumah Katu di Poso. Film ini menceritakan proses reintegrasi seorang bekas narapidana teroris selepas menjalani hukuman penjara.
Aktivitas kerja-kerja produksi film pendek "Jalan Pulang" yang diproduksi oleh Rumah Katu di Poso. Film ini menceritakan pros es reintegrasi seorang bekas narapidana teroris selepas menjalani hukuman penjara. | Rumah Katu /Istimewa

Pengujung 2015, Iin memasuki fase baru setelah menjalani hukuman di balik jeruji. Dia menanggalkan gagasan radikal, dan memulai hidup baru dengan membuka usaha sablon serta percetakan di rumahnya.

Kepulangan Iin beroleh sambutan dari teman-temannya, para eks-kombatan yang terlibat konflik Poso. Sebelum konflik, Iin memang sudah jadi pentolan dalam pergaulan muda-mudi di Bonesompe.

Dia juga tetap berkomunikasi dengan Adriany Badrah. Lewat diskusi dengan Adriany, Iin melirik potensi dalam lingkaran pergaulannya dan mendirikan Rumah Katu, sebuah komunitas yang aktif mengampanyekan perdamaian di Poso lewat aktivitas kreatif.

Rumah Katu akhirnya menjadi satu ruang alternatif bagi sejumlah eks-kombatan di Poso. Komunitas itu pula yang menggerakkan produksi film Jalan Pulang.

“Kalau di Poso, 'katu' itu sebutan untuk daun pohon sagu, yang punya banyak manfaat, antara lain jadi bahan atap rumah. Katu juga bisa jadi singkatan ‘Kita Satu’,” demikian Iin menjelaskan penamaan Rumah Katu.

Mula-mula, Rumah Katu melekat sebagai jenama sebuah pantai wisata di Poso yang dikelola Iin dan kawan-kawan. Area itu sempat menjadi titik penyelenggaraan Festival Rumah Katu (19-20 Agustus 2016), hajatan kebudayaan yang menampilkan tarian, musik, film, dan foto.

Hajatan tersebut ikut jadi penanda interaksi Adriany dengan Rumah Katu. Perempuan itu banyak membangun jejaring dengan penampil, pemerintah, dan para aktivis guna menyukseskan Festival Rumah Katu

Festival Rumah Katu, kata Adriany, merupakan satu usaha untuk menunjukkan bahwa Poso sudah berangsur aman.

“Dulu, ada ketakutan kalau bikin acara hingga larut malam di Poso. Festival Rumah Katu dibikin dua hari dua malam, guna menyingkirkan trauma,” kata perempuan pemegang gelar magister p erdamaian dan rekonsiliasi konflik dari Universitas Gadjah Mada itu.

Sayangnya, setahun belakangan, area wisata Rumah Katu mesti berhenti untuk sementara waktu karena “alasan operasional”.

Namun, sebagai komunitas, Rumah Katu tak ikutan mandek. Mereka justru menemukan medium kekaryaan baru lewat film pendek--terutama dalam memproduksi Jalan Pulang.

Bagi IIn dan Adriany, Jalan Pulang merupakan karya audio-visual ketiga yang mereka kerjakan bersama sebagai duet sutradara dan produser.

Sebelumnya, duet Iin dan Adriany sudah bikin video pendek: Senjata Rakitan dan 2/3 Malam. Judul terakhir bahkan sempat memenangkan kompetisi video pendek yang diselenggarakan Tempo Institute.

Video-video tersebut mengetengahkan cerita berlatar konflik komunal, kehidupan eks-narapidana terorisme, deradikalisasi, dan kebinekaan.

Tak sekadar video, ekspresi kesenian Rumah Katu juga tersalurkan lewat musik. Pada Festival Danau Poso 2017, mereka naik sebagai penampi l. Momen itu kian spesial sebab Rumah Katu berkesempatan kolaborasi dengan Slank.

“Rumah Katu sengaja memilih medium kreatif atau kesenian, seperti film pendek atau musik, karena ingin mendekatkan topik perdamaian Poso kepada anak muda,” kata Adriany.

Iin bilang, aktivitas Rumah Katu masih jauh dari sempurna. Meski begitu, kata dia, ada sedikit kepuasan lantaran Rumah Katu bisa ikut ambil bagian dalam kampanye kreatif demi perdamaian.

“Cukuplah kami di Poso yang merasakan konflik atas nama agama. Jangan sampai hal macam ini terulang di Poso dan wilayah lain,” ujarnya.

Sumber: Google News | Liputan 24 Poso

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »