Kau dan Rum Raisin | Liputan 24 Sulawesi Tengah
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kau dan Rum Raisin

Posted by On 8:30 PM

Kau dan Rum Raisin

detikHot / Culture / Detail Berita

art

Kau dan Rum Raisin Sabtu, 30 Jun 2018 10:53 WIB · Anggun Prameswari - detikHOT Kau dan Rum RaisinIlustrasi: Denny Pratama/detikcom Jakarta - Begitu kucur air hangat dari shower berhenti, aku merasakan dingin itu kembali. Kueratkan tali bathrobe hijau pupus, setengah berharap lenganmulah yang melingkar di sana. Uap bekas mandi air hangat membuat cermin wastafel berembun. Tanganku menggantung di udara, tertahan ragu untuk mengusap permukaannya.
Apa kalau kuseka, kutemukan bayanganmu di sana?
Tanganku terkepal kembali. Aku menuju walking closet. Benakku tak berhenti bertanya, apa kau ingat minggu depan anniversary kita, Ben? Kulihat hanger tergeletak di lantai. Ke mana kemeja hijau pupus bergaris putih yang tadi kugantungkan di sana?
Aku membalikkan badan cepat-cepat. "Raisin!"
Aku memanggilmu Rum, ia kunamai Raisin, masih kuingat, kala itu kau tergelak. Mungkin harus kita rayakan dengan makan rum raisin ice cream, begitu katamu.
Saat kau memperkenalkanku padanya, Raisin menyalak beberapa kali. Melihat cincin id entik di jari manis kita, anjing itu menggeram dalam. Saat kuulurkan tangan, ia nyaris menggigitku. Siapa bilang beagle betina itu anjing yang menggemaskan?
Rum, kau membuat Raisin cemburu, kau mengerling ke arahku, sebelum menarik anjing itu ke dalam pelukan dan menggosok-gosok belakang telinganya.
Aku tersenyum kecut, bertanya-tanya apa beagle betina pencemburu dan berbulu cokelat kismis itu akan menerjang dan menggigitku habis-habisan.
Kalau kau mengenalnya, tahu-tahu kau sudah jatuh cinta.
"Raisin!" panggilanku menggema, menarikku ke masa kini. Kujelajahi seisi rumah. Ia berbaring di taman depan, dekat rumpun kembang yang dulu kita tanam saat pindah kemari. Hidungnya mirip rona kismis, mengendus-endus kain di bawah tubuhnya.
"Raisin!"
Anjing itu tak mendongak. Pipinya makin kuat mengusap-usap alas tidur itu.
"Itu kemeja Ben! Minggir!" Aku berlutut, berusaha memiringkan tubuhnya.
Raisin menatapku sayu. Ia menyalak lemah dua kali. Kutarik kemeja itu lebih kuat.
"Kembalikan!"
Raisin menggeram. Matanya menatapku tajam. Guk! Salakannya merobek keheningan.
Satu sentakan kuat membuat kemeja itu terkoyak. Sambungan di lengannya lepas. Aku terpana. Sesak bergulung di dada, berubah menjadi bola salju yang melindasku hidup-hidup.
Kami saling menatap. Aku Rum dan ia Raisin. We are your favorite rum raisin flavor of love, but you're no longer here to love us.
Raisin melolong panjang, seakan memanggilmu pulang. Dalam hati, aku pun begitu. Ada luka yang tak akan sembuh karena kepergianmu. Aku dan ia, Rum dan Raisin, perempuan kini harus belajar saling berdamai.
***
Sejak pagi, hujan memerangkap kami di dalam rumah. Kepul kopi asli Toraja di hadapanku mulai memudar. Panekuk yang kubuat belum tersentuh. Di sudut ruangan, Raisin rebah di karpet kecil, menatap ke luar jendela. Rintik-rintik yang menempel di kaca menarik perhatiannya. Ujung hidung kismisnya menyuruk ke kaca, membuat decit lirih berirama.
Raisin baru tiga bulan ketika kami ketemu di teras pet shop, tiba-tiba suaramu terdengar. Tercium pula aroma omelet andalanmu; campuran bawang bombay, paprika, daging asap, dan jamur champignon mengalahkan wangi aftershave pagimu.
Hujannya deras. Airnya tampias dan Raisin kecil menggigil. Ia hampir menangis saat aku mengulurkan tangan menyentuh bulunya yang lembap, ujarmu.
Mana ada anjing yang menangis, kataku tergelak. Raisin cuma little drama queen.
Kamu juga menangis untuk hal-hal sepele. Seluruh dunia tahu kamu Rum yang kuat, tapi ternyata gampang menangis saat kehilangan anting.
Itu anting mamiku, aku pura-pura cemberut.
Kalian ini....pandai betul membuatku makin jatuh hati dengan air mata.
Aku baru hendak membuka mulut tanda protes saat kudapati pantry kembali lengang. Tak ada aroma o melet atau aftershave-mu. Tak ada tawamu. Percakapan tadi terasa begitu jauh, sejauh kenangan masa lampau. Kueratkan pegangan di cangkir kopi, berusaha meremas semua rasa yang mengembang tak beraturan. Raisin mendongak, lalu menyalak dua kali.
Aku tak menggubris. Tanganku meraih gagang lemari gantung dan mencari-cari maple syrup untuk dituang ke atas panekuk. Seingatku masih ada satu botol kusimpan di sana.
Tidak ada. Kubuka laci pantry. Nihil.
Raisin menyalak lagi. Kuulurkan tangan membuka kulkas, sembari mengingat, apa sudah kumasukkan ke sana. Namun, mustahil. Baru kemarin aku membelinya dan belum kupakai sama sekali. Untuk kesekian kalinya, anjing itu menyalak.
Aku memijat pelipis yang berdenyut. Sepertinya aku butuh kopi yang lebih kental.
Ia berderap menuju taman belakang. Lihat, Ben. Anjing kesayanganmu itu bersikap aneh, sering kali menyalak tanpa henti, berdiri menggeram ke sudut kosong, atau malah menarik baju-baju berhamburan dari keranjang setrikaan. Habis seisi rumah ia berantakan. Apa ini sebenarnya cara Raisin berduka?
Raisin tidak suka padaku. Sepertinya dia cemburu ada perempuan lain di rumahmu.
Mana mungkin, kau tergelak. Jangan-jangan kau yang cemburu padanya.
Dua minggu lalu, ia menggeram tanpa alasan saat aku mengelap pigura foto pernikahan kita. Ia sering melompat ke tumpukan setrikaan. Pakaian yang rapi terseterika, semburat di lantai. Beberapa menjadi kusut, terbelit kaki mungil Raisin yang menginjak-injaknya. Lalu insiden kemeja robek. Sekarang apa lagi?
Aku mendapati Raisin melompat ke meja kecil di teras belakang, tempat Ben sering membaca. Kadang dia sarapan di sana. Menikmati panekuk berlumur maple syrup dan kopi diiringi kecipak air mancur di kolam belakang. Aku tertegun. Botol maple syrup itu tergeletak di lantai setelah ditendang Raisin. Isinya tinggal tiga perempat. Beberapa tetesnya jatuh lantai marmer putih. Di atas meja ada sepiring panekuk yang tak habis dimakan.
Aku mengernyit, tak memahami keganjilan itu. Itu bukan piringku. Aku tak ingat pernah makan di sana. Lagi pula, aku baru membeli maple syrup itu kemarin dan belum memakainya sama sekali.
"Kenapa botol ini di sini, Raisin? Kamu yang ambil?"
Raisin turun, mengendus tetes sirup di lantai. Hatiku perlahan memanas dan sesak.
"Kamu pikir ini petak umpet bareng Ben?" Nadaku meninggi. "Ben sudah nggak ada, Raisin. Nggak ada! Dan, itu semua gara-gara kamu!"
Raisin mendongak menatapku yang menjulang. Matanya seperti basah.
"Sekarang, seumur hidup aku harus terjebak sama kamu!"
Anjing itu mengerutkan tubuhnya pelan, menyalak terlalu lirih. Kalau Ben ada di sini, tentu dia membela anjing kesayangannya. Lalu kami akan bertengkar. Persis perdebatan saat itu, setahun lalu, di malam dengan hujan deras dan gemuruh petir saling bersahutan.
Aku dipromosikan pindah ke kan tor baru, lengkap dengan fasilitas apartemen. Kami bisa tinggal di sana. Lokasinya pun dekat dengan kantor Ben. Kami hanya perlu 15 menit perjalanan. Sementara di rumah ini, kami harus berangkat selepas subuh agar tidak tenggelam oleh kemacetan ibukota. Namun, Ben menolak. Pasalnya di apartemen nanti, dia tak bisa membawa Raisin. Dia lebih suka kami kekurangan waktu bercengkerama di pagi hari ketimbang meninggalkan Raisin.
Ben lebih memilih Raisin ketimbang aku. Kesimpulan kulontarkan telak ke hadapannya sebelum aku menyetir mobil menembus hujan. Siapa menyangka, Ben menyusul bersama Raisin. Siapa yang tahu kalau mobil itu tergelincir di jalan tol dan membentur besi pembatas jalan. Ben tewas, tapi Raisin tetap selamat tanpa luka sedikit pun. Padahal tiga hari lagi anniversary kami. Aku sudah menyiapkan kejutan makan malam dan kado, dan....aku tak sanggup menahan air mata ini.
"Mestinya kamu yang mati, Raisin. Kamu!"
***
Aku tak ingin bangun pagi i ni. Mestinya ada kamu Ben. Hari ini anniversary kita. Sayang, sepertinya tak akan ada perayaan apa pun, selamanya.
Aku turun ke ruang keluarga. Tak ada suara orang memasak di dapur. Tiada salakan Raisin. Hening sekali, bahkan aku tak bisa mendengar napasku sendiri. Sunyi seperti yang kuduga. Namun, beberapa perabot berubah letak. Sofa digeser ke arah yang tak kukenali. Beberapa cangkir bekas minum teronggok di bak cuci piring, tak tersentuh. Botol maple syrup kesukaan Ben bahkan sudah kosong dan bergelimpangan di meja makan. Lantai berdebu tak disapu berhari-hari.
"Raisin?"
Ruang tamu. Ruang makan. Taman belakang. Raisin? Mataku membulat melihat pintu belakang yang tersambung ke jalan raya terbuka. Raisin? Segala pikiran buruk berkelebat. Aku langsung menghambur ke jalan. Beagle berhidung kismis, kesayangan Ben, ke mana ia?
"Raisin!" Keringat dingin menjalari. Bagaimana kalau ia tidak kutemukan? Aku menggigit bibir kuat-kuat. Berusaha mengusir pikiran jelek yang melintas.
Betapa leganya saat kudapati sosok itu mengendus pintu masuk sebuah pelataran. Aku melihat palang papan nama yang menaunginya. Dengan cepat kususul anjing itu. Ia berhenti di sebuah nisan, dengan bunga-bunga segar bertaburan di sana. Makam Ben.
Seingatku tak ada bunga-bunga itu saat terakhir kali aku berkunjung.
"Raisin," panggilku, disambut salakannya sekali.
"Raisin," dalam bersamaan, kudengar lembutnya suara itu. Aku membekap mulutku sendiri, melihatmu berjalan mendekat. Kemeja hijau pupus bergaris putih itu kaupakai. Lengannya tidak sobek, seakan aku dan Raisin tak pernah beradu kuat menariknya.
Kau membungkuk ke arah Raisin yang menyalak padaku. Cincin itu masih kaupakai, sebagaimana aku tak sanggup melepaskan cincinku dari jari ini. Kau menggosok belakang telinga Raisin untuk menenangkannya. Namun, Raisin masih menggeram, seakan hendak melompat ke dalam pelukank u.
"Kenapa kamu? Kangen Rum, ya?" Kau menarik Raisin ke dalam pelukan. "Aku lebih kangen. Hari ini anniversary kami, Raisin."
Kau membopong Raisin. Moncongnya tenggelam di bidang pelukanmu. Ada hangat menyelimuti dada. Pipiku basah seiring sosokmu yang menjauh. Raisin menggeliat, mencuri pandang ke belakang punggung. Ia menyalak sekali, tepat saat ujung jariku menyeka mata.
Ya, aku ingat semua. Pertengkaran itu. Hujan besar. Aku yang berkata, lebih baik hidup tanpamu, padahal aku tahu itu kebohongan paling besar yang pernah kubuat. Aku yang tak bisa mengendalikan kemudi saat ban selip, dan....
"Aku merasa Rum ada di dekat kita, Raisin. Kamu juga merasa begitu ya?"
Anjing itu menyalak, kali ini lirih, penuh kerinduan. Dan, kau memeluknya lebih erat, mengingatkanku pada apa-apa yang tak pernah bisa kupeluk lagi.
Kulihat nama yang terukir di batu nisan. Rum. Namaku.
Anggun Prameswari ibu ru mah tangga yang menulis fiksi dan menerjemahkan buku
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com
(mmu/mmu)
FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT Berita Terkait Baca Juga detikNews Gibran, Sumiyati, dan Kemanusiaan Kita

Gibran, Sumiyati, dan Kemanusiaan Kita

detikNews Kokohnya Surau Kami

Kokohnya Surau Kami

HaiBunda Kisah Fayanna, Penulis Cilik yang Sudah Menerbitkan 42 Buku

Kisah Fayanna, Penulis Cilik yang Sudah Menerbitkan 42 Buku

detikNews Avengers dan Kemenangan Kaum Geek

'Avengers' dan Kemenangan Kaum "Geek"

detikNews Keren! Peringati Hardiknas, 76 Guru di Banjarnegara Luncurkan Buku

Keren! Peringati Hardiknas, 76 Guru di Banjarnegara Luncurkan Buku

detikNews Ini Cara Banyuwangi Tingkatkan Budaya Literasi Generasi Muda

Ini Cara Banyuwangi Tingkatkan Budaya Literasi Generasi Muda

detikNews Sutardji hingga Garin Nugroho akan Ramaikan Kemah Sastra Nasional

Sutardji hingga Garin Nugroho akan Ramaikan Kemah Sastra Nasional

detikNews Partai Setan, Partai Allah, dan Rasionalitas Politik

Partai Setan, Partai Allah, dan Rasionalitas Politik

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed Berita Terbaru + Most Popular + Sumber: Google News | Liputan 24 Salakan

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »