Togean, tentang laut, pantai, dan pesta | Liputan 24 Sulawesi Tengah
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Togean, tentang laut, pantai, dan pesta

Posted by On 11:40 PM

Togean, tentang laut, pantai, dan pesta

Malam baru tiba, 19 Juni 2018, saya dan dua kenalan duduk mengobrol di tepi pantai.

Di hadapan kami, riak teduh Teluk Tomini mengelus pasir pantai, suaranya berpadu lantunan Hymn for the Weekend milik Coldplay dari pengeras suara portabel.

Kami sudah meneguk beberapa gelas saguer--arak aren khas Sulawesi--saat Anton datang bergabung.

Pria Ceko itu tersenyum sembari menyodorkan seloki becherovka. "Minuman tradisional Ceko, silakan," katanya dalam bahasa Inggris terbata-bata.

Beda bahasa tak bikin kami canggung. Lagi pula, di pulau terpencil, pertukaran dua liquor khas cukup untuk memulai pesta.

Itu malam ketiga saya di Pulau Kadidiri, Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah. Di Togean, malam datang demi sebuah perayaan teruntuk mereka yang mengambil jeda dari almanak kerutinan.

Abdulkadir “Lani” Djaelani (37) jadi orang paling sibuk di antara kami. Anak pantai Togean itu mengobrol sambil menyajikan minuman dan menyiapkan api unggun.

Sehari-hari, Lani bekerja sebagai juru kemudi perahu motor dan pemandu wisata.

"Saya sempat keluar Togean tahun 2001, karena kerusuhan Poso--jumlah wisatawan turun. Waktu itu, sudah memandu selam, lisensinya saya pakai ke Sabang, Aceh," katanya.

Laiknya beach boys, kehidupan Lani berpaut laut, pantai, dan pesta. Dia juga pernah mengembara ke Eropa, membuatnya bisa berbincang dalam lima bahasa asing: Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, dan Prancis.

Lani pulang kampung pada 2007. Lima tahun terakhir, dia ikut merintis Tripinera, jasa pengatur trip ke Togean.

Pada satu momen di tengah obrolan kami, Lani mengernyitkan kening seakan-akan berpikir keras.

Dia mengaku khawatir dengan rombongan pelancong yang pergi trip antarpulau (island hoping) di bawah panduan Randhy Andi Baso, pendiri Tripinera sekaligus partner kerjanya.

"Sudah terlalu malam dan dorang (mereka) bel um balik. Takut ada apa-apa. Saya mau siapkan perahu untuk susul dorang," keluh Lani.

***

Tiga dari sekian aktivitas utama yang bisa dilakukan selama di Togean, Sulawesi Tengah: selam permukaan (snorkeling), trip antarpulau (island hoping), dan bermain di pantai.
Tiga dari sekian aktivitas utama yang bisa dilakukan selama di Togean, Sulawesi Tengah: selam permukaan (snorkeling), trip antarpulau (island hoping), dan bermain di pantai. | Putri Fitria /Beritagar.id

Pagi, 17 Juni 2018, saya bertemu Randhy Andi Baso (35) di Pelabuhan Ampana, Tojo Unauna, Sulawesi Tengah.

Kami sudah kenal lama sebagai sesama orang Palu, ibu kota Sulawesi Tengah--sekitar 400 kilometer dari Ampana. Di skena musik Palu, dia punya pamor sebagai vokalis band berirama jazz, Cinerama.

Lima tahun silam, Randhy mendirikan Tripinera, layanan jasa pengatur trip yang membuatnya sering bolak balik Togean.

Sebagai kawan lama, Randhy banyak membantu perjalanan saya dan keluarga--Putri Fitria serta anak kami yang berusia tiga tahun.

Dia pula yang memesankan tiga tempat duduk perahu cepat (speed boat) menuju Togean--kami tebus seharga Rp130 ribu per kursi.

“Nanti ketemu di sana,” kata Randhy. Dia tak ikut bersama kami lantaran harus menyiapkan perahu cepat carteran untuk tamu Tripinera.

Bila naik perahu cepat lama perjalanan Ampana-Togean sekitar dua jam. Saban hari, ada dua jadwal keberangkatan perahu cepat. Opsi lain naik kapal motor dengan durasi pelayaran kurang dari tiga jam.

"Di Togean banyak yang tidak connect, dari sinyal sampai transportasi. Kalau tidak mau ribet, orang butuh jasa tur seperti Tripinera," kata Randhy. &q uot;Torang (kami) bisa bantu atur transportasi, penginapan, trip ke berbagai spot, dan lain-lain."

Kepulauan Togean mengapung di perairan Teluk Tomini, persis di atas lengan Pulau Sulawesi yang bentuknya serupa huruf K.

Secara administratif, Togean masuk Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengahâ€"buah pemekaran Kabupaten Poso pada 2003. Kepulauan itu punya 64 pulau (6 pulau utama), luasnya sekitar 3.500 kilometer.

Kebanyakan pulau belum teraliri listrik negara. Sinyal ponsel pun lebih sering hilang. Puluhan resor hanya mengandalkan listrik terjadwal dari generator antara pukul 18.00-23.00.

Namun keterpencilan membuat gugusan pulau itu bak bungalo privat yang melayang di tengah lautan. Keterbatasan sarana malah menjadikannya tempat ideal bagi mereka yang ingin menepi dari rutinitas modern.

Atas: Dagat Molino atau Danau Ubur-ubur, tempat para pelancong bisa berenang dengan ubur-ubur tanpa takut disengat. Bawah: Pantai Karina, bersebelahan dengan Dagat Molino, sebuah pantai dengan pasir putih halus serupa tepung.
Atas: Dagat Molino atau Danau Ubur-ubur, tempat para pelancong bisa berenang dengan ubur-ubur tanpa takut disengat. Bawah: Pantai Karina, bersebelahan dengan Dagat Molino, sebuah pantai dengan pasir putih halus serupa tepung. | Putri Fitria /Beritagar.id

Jelang siang, kami tiba di Pelabuhan Wakai, Pulau Batudaka. Wakai, kerap dijuluki "ibu kota Togean", satu dari sedikit teritori Togean yang punya sinyal, listrik, serta jalan beraspal.

Di sana, perahu cepat milik resor tempat kami menginap sudah menunggu dan siap menyeberang ke Pulau Kadidiri--sekitar 10 menit perjalanan.

Kadidiri merupakan pulau den gan pantai berpasir putih dan hamparan kebun kelapa di tengahnya.

Ada tiga resor beragam kelas dan harga yang berdiri di sana. Kami pilih mondok di Kadidiri Paradise, resor selam yang dikelola Elisabeth “Ellys” Yusuf.

Perempuan berdarah Tionghoa itu lebih suka menyebut dirinya “orang pulo” (orang pulau), istilah lokal yang merujuk pada orang-orang dari Kepulauan Togean.

“Di sini rumah saya,” katanya, ketika kami mengobrol sambil minum kopi pada sore gerimis, 20 Juni 2018.

Alumnus Taylor’s University, Malaysia itu harus menunda mimpinya membuka toko roti lantaran mengurusi resor milik keluarga.

Kadidiri Paradise lahir dari ketekunan ibu Elisabeth, Hun Maladjai. Dia merintis bisnis penginapan dan pariwisata di Togean sejak awal 1990-an.

Semula, Hun sekadar buka toko kelontong di Wakai. Suami Hun, Eddy Yusuf, mengelola perkebunan kelapa saat bisnis kopra sedang moncer. Area sekitar kebun kelapa itulah yang kini jadi lokasi resor dan b eberapa pulau di bawah pengelolaan Ellys.

Ide buka usaha penginapan melintas saat Hun menonton film. "Film itu setting-nya di California, ada hotel bertetangga dengan resor yang punya bungalo. Sejak itu, mama bermimpi bikin resor, tapi mulainya dari homestay," ujar Ellys.

Kebetulan, era 1990-an, ada kapal penumpang yang melayari Teluk Tomini dengan rute Parigi-Poso-Ampana-Wakai-Gorontalo.

Kapal termaksud jadi pilihan wisatawan guna menuju Bunaken dan Danau Poso, dua titik wisata andalan Sulawesi semasa itu. Ada saja para peransel (backpacker) yang tersesat atau singgah di Wakaiâ€"kebanyakan wisatawan asing.

Hun pun menawarkan penginapan dan paket trip kepada mereka. "Mama cuman lulusan SD. Dia ngobrol dengan bule sambil bawa kamus," kenang Ellys.

Itu bukan usaha yang mudah. Kadang muncul komplain dari pelancong, mulai dari alat selam permukaan tak standar hingga fasilitas kurang baik.

"Sekarang saja masih terpencil, apalag i dulu, fasilitas serba terbatas," ujar Ellys. "Kalau ada komplain mama bisa menangis. Tapi dia terus belajar dan memperbaiki pelayanan."

Lebih dua dekade berselang, dari sekadar homestay yang menempel pada rumah keluarga Hun, usaha itu menjelma resor selam kesohor di Togean.

Kini Kadidiri Paradise punya 26 bungalo, dua perahu cepat, 18 karyawan, dan sanggup melayani lebih dari 3.000 tamu per tahun.

***

Seorang wisatawan sedang selam permukaan (snorkeling) di Califonia Reef, salah satu titik selam favorit di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah.
Seorang wisatawan sedang selam permukaan (snorkeling) di Califonia Reef, salah satu titik selam favorit di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah. | Putri Fitria /Beritagar.id

"The heart of coral triangle". Demikian julukan Togean. Istilah itu merujuk pada pusat keanekaragaman hayati laut global, titik pertemuan aneka tipe terumbu karang: karang (fringing reef), karang penghalang (barrier reef), dan karang cincin (atoll).

Togean memang menyimpan karang-karang nan semarai sekaligus tempat bermain ikan-ikan. Organisasi konservasi asal Amerika Serikat, Conservation International menemukan 262 spesies koral dan 596 jenis ikan karang di Togean.

Keanekaragaman hayati itu membuat Togean berstatus Taman Nasional sejak 2004.

Togean pun jadi nirwana bagi peselam. “Togean bagus untuk belajar selam karena arusnya tenang,” ujar Ellys. “Lebih dari 90 persen jenis koral ada di sini. Beberapa tamu bilang, Togean lebih kaya dibanding dengan Great Barrier Reff di Australia.”

Saya sempat mengobrol dengan beberapa pelancong asing. Mereka bilang ingin melawat ke Bomber, titik selam bersejarah yang menyimpan bangkai pesawat pengebom AS: B-24 Liberator.

Pesawat itu jatuh pada kecamuk Perang Dunia II, 3 Mei 1945, dalam misi pengeboman yang menyasar markas serdadu Jepang di Sulawesi. Misi berujung nahas lantaran mesin pesawat rusak terbakar, dan terpaksa mendarat darurat di Teluk Tomini.

Tujuh dasawarsa berselang, pesawat berukuran panjang 17 meter dan lebar 22 meter itu masih terkubur di dasar laut. Ia jadi sarang bagi aneka karang dan ikan.

Saya dan keluarga menghabiskan empat hari di Togean dengan trip antarpulau.

Perjalanan antarpulau ditempuh sekitar 30-60 menit--ke pulau terluar bisa lebih dari dua jam--dengan menumpang perahu motor.

Selam permukaan (snorkeling) jadi pilihan aktivitas di tiap persinggahan. Bila lelah, kami rehat sambil santap siang atau menikmati kelapa muda di tepi pantai dengan pasir putih nan halus serupa tepung.

Satu titik selam permukaan favorit adalah California Reef. Itu merupakan karang penghalang berdiameter kira-kira dua kilometer. Di atasnya, ada hamparan pasir putih yang akan tampak ke permukaan kala air laut surut.

Ketika berenang di sana, anak saya bersemuka ikan-ikan yang selama ini hanya dilihatnya di film animasi Disney, Dory dan Nemo.

Dagat Molino, kerap pula disebut Danau Ubur-ubur, jadi titik berkunjung menarik lainnya.

Ia terletak di sebuah pulau karang, dan terisi air payau berwarna hijau yang membuat biota laut berevolusi sekaligus kehilangan karakter aslinya.

Alhasil, para pelancong bebas berenang dengan ubur-ubur tanpa takut tersengat--serupa Danau Kakaban, Derawan, Kalimantan Timur.

Sekali trip kami bisa menyinggahi 3-5 titik. Berangkat sedari pagi, lalu pulang ke resor kala matahari mendekati ufuk barat.

Dalam perjalanan pulang, Lani, sang juru kemudi perahu, akan melempar jangkar demi memberi kesempatan kami menikmati matahari terbenam beriring kilau jingga: kuning kemerahan.

***

Randhy Andi Baso (kiri), pendiri Tripinera, layanan jasa pengatur perjalanan ke Togean. Elisabeth "Ellys" Yusuf (tengah), pemilik sekaligus manajer operasional resor, Kadidiri Paradise; Abdulkadi Djaelani (kanan), juru kemudi perahu motor dan pemandu trip Tripinera.
Randhy Andi Baso (kiri), pendiri Tripinera, layanan jasa pengatur perjalanan ke Togean. Elisabeth "Ellys" Yusuf (tengah), pemilik sekaligus manajer operasional resor, Kadidiri Paradise; Abdulkadi Djaelani (kanan), juru kemudi perahu motor dan pemandu trip Tripinera. | Putri Fitria /Beritagar.id

Lani tengah bersiap menyusul rombongan Randhy tatkala deru perahu motor mulai terdengar di kejauhan.

Dari perairan di sela rimbun bakau, rombongan Randhy t erlihat merapat ke dermaga Kadidiri Paradise.

Rombongan itu terdiri dari empat orang: Randhy, dua tamu Tripinera, dan Ivan, juru kemudi perahu. Mereka datang dengan senyum mengembang dan tangan menenteng hasil tangkapan laut.

"Tadi singgah ke pasar di Malengeâ€"dua hingga tiga jam perjalanan dari Kadidiri--cari ikan. Makanya lambat," kata Randhy.

Tangkapan laut itu jadi santapan utama dalam pesta kami. Seloki saguer dan becherovka yang tandas segera berganti kaleng-kaleng bir.

Api unggun menyala melengkapi sinar bulan dan bintang-bintang. Malam kian panjang. Obrolan mengalir. Lelucon terlontar. Tawa membahana.

Saat listrik resor mati, pukul 23.00, cahaya benda langit kian menjadi.

Suasana hening sesaat, sebelum Randhy memetik gitar dan melantunkan lagu lawas Bob Marley.

Turn your lights down low
And pull your window curtains
Oh, let Jah moon come shining in
Into our life again...

Matahari terbenam di Togean dipotret dari atas perahu motor yang buang sauh di tengah lautan.
Matahari terbenam di Togean dipotret dari atas perahu motor yang buang sauh di tengah lautan. Beritagar.id /Putri Fitria
PANDUAN MENUJU TOGEAN Diperbarui: 08 Juli 2018

Ada dua titik utama mencapai Togean: Palu, Sulawesi Tengah atau Kota Gorontalo, Gorontalo. Kedua kota bisa dijangkau dengan sejumlah maskapai penerbangan--harga tiket mulai dari Rp800 ribu (dari Jakarta).

  • Dari Palu: Naik pesawat menuju Ampana, sekitar 40 menit, harga mulai Rp900 ribu. Alternatif lain perjalanan darat (8 jam) dengan minibus harga Rp150 ribu.
    Dari Ampana menyeberang ke Wakai, Pulau Batudaka--pulau utama di Togean. Opsi pelayaran bisa p akai kapal motor, feri, atau perahu cepat. Perahu cepat jadi rekomendasi utama, lama perjalanan dua jam dan harga tiket Rp130 ribu.
  • Dari Gorontalo: Naik kapal feri menuju Wakai (12 jam, harga Rp80-100 ribu). Catatannya, feri tak saban hari berangkat.

Penginapan

Total ada 20-an penginapan di Togean. Harganya berkisar Rp150-700 ribu (per malam, per orang), termasuk makan tiga kali sehari. Kadidiri Paradise, misal, pasang tarif Rp550 ribu (per malam, per orang) untuk villa dengan panorama laut.

Pilihan aktivitas

  • Selam dan selam permukaan merupakan aktivitas utama di Togean.
  • Trip antarpulau (island hoping). Harganya mulai Rp600 ribu per hari untuk sewa perahu motor dan jasa juru kemudi.
  • Fasilitas kayaking juga tersedia di sejumlah resor.
  • Mendaki bukit di pulau-pulau tertentu terutama bila ingin ambil foto dengan latar memukau.
  • Mengunjungi kampung dan melihat kebudayaan suku nelayan, Bajau. Di Pulau Papan dan M alenge bisa melihat jembatan kayu sepanjang satu kilometer yang menghubungkan keduanya. Ada pula deretan rumah di atas air.

Pengatur perjalanan

Bila tak ingin repot, sila pakai jasa pengatur trip.

Tripinera, misal, menyediakan trip tiga hari dua malam. Per orang kena tarif mulai dari Rp1,9 juta dari Ampana atau Rp2,2 juta dari Palu--termasuk transportasi, penginapan, makan, dua hari trip antarpulau, dan pemandu tur.

Mereka juga menyediakan layanan trip privat dengan harga menyesuaikan keinginan pelancong.

Sumber: Berita Sulawesi Tengah

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »